Pasca kongres PSSI yang gagal pada tanggal 20 Mei 2011, beraneka tanggapan, pernyataan, pendapat, kritik bahkan kecaman, muncul baik dari pihak-pihak yang terlibat dalam hal ini penanggungjawab/penyelenggara dan peserta kongres, maupun dari berbagai elemen masyarakat, media, pengamat, wakil rakyat serta insan persepakbolaan di tanah air.
Umumnya masyarakat menyayangkan dan menyesalkan ulah kelompok tertentu yang berusaha memaksakan kehendak, sehingga berujung pada kegagalan kongres dalam mengambil keputusan yakni memilih Ketua Umum, Wakil Ketua Umum dan Komite Eksekutif PSSI. Sementara itu, muncul pula pendapat yang menyatakan, Indonesia tidak perlu khawatir dengan ancaman sanksi yang bakal dijatuhkan oleh FIFA.
Kekhawatiran terhadap sanksi FIFA bukannya tanpa alasan. Dengan sanksi itu, Indonesia tak akan lagi bisa bermain atau mengirimkan tim ke semua pertandingan di mancanegara, yang sekaligus akan membatalkan keikutsertaan 2 klub/perserikatan yang sudah dijadualkan berlaga di kejuaraan 16 besar AFC Cup pada waktu bersamaan tgl 25 Mei 2011, Persipura di Vietnam dan Sriwijaya FC di Thailand.
Yang paling fatal adalah kenyataan bahwa kesebelasan Indonesia tidak akan tampil membela bendera merah putih dalam ajang pesta olahraga Sea Games. Ini tentu ironis, anak-anak bangsa yang sudah berlatih mempersiapkan diri dan digembleng dengan latihan militer di Pusdik Kopassus Batujajar, terpaksa harus gigit jari duduk sebagai penonton dalam pertandingan sepakbola yang berlangsung di negerinya sendiri.
Bukan itu saja, bayang-bayang sanksi FIFA juga melanda sejumlah wasit nasional yang secara otomatis akan terkena imbas apabila benar-benar dijatuhkan kepada Indonesia. Beberapa wasit yang kini sedang bertugas di luar negeri, terpaksa harus kembali ke tanah air jika FIFA memutuskan sanksi tersebut tgl 30 Mei 2011 mendatang.
Belum lagi dampak psikologis bagi anak-anak dan kalangan remaja yang sangat berharap suatu saat bisa menjadi pemain klub, perserikatan bahkan pemain nasional, namun kini jadi kecewa setelah melihat perseteruan yang terjadi dalam Kongres PSSI.
Di sisi lain, pihak yang tidak mengkhawatirkan sanksi FIFA, mengemukakan alasan bahwa dalam masa berlakunya sanksi tersebut bisa dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi, membenahi organisasi dan kesempatan bagi para pemain untuk berlatih dengan sebaik-baiknya. Terkait hal ini, mantan Menpora Adhyaksa Dault dengan tegas mengecam Manajer Persebaya Saleh Mukadar yang dinilai emosional dan sama sekali tidak berdasar dalam menyikapi ancaman sanksi FIFA. "Tidak seharusnya dia (Saleh Mukadar. Red) melontarkan sikap yang mengabaikan sanksi FIFA," ujarnya.
Dalam kesempatan terpisah, anggota Dewan Pers yang juga CEO Tempo Bambang Harimurti saat tampil dalam talk show di sebuah stasiun televisi, mengatakan, sanksi FIFA merupakan hal yang biasa-biasa saja dan tidak perlu dibesar-besarkan. Menurutnya, sejumlah negara juga terkena sanksi FIFA namun akhirnya bisa kembali berjaya dalam berbagai event dunia.
Bambang juga menilai, dinamika yang berkembang dalam kongres PSSI di Hotel Sultan jamak terjadi pada berbagai sidang organisasi dan parlemen di mancanegara. "Saya rasa apa yang terjadi di Kongres PSSI itu masih dalam batas kewajaran," katanya.
Bukan maksud penulis mempermasalahkan kongres PSSI dengan segala akibatnya, namun tidak sependapat dengan pernyataan Bambang Harimurti terkait sanksi FIFA. Bagaimana pun, kita harus tetap memperhatikan sekaligus mempertimbangkan aspirasi masyarakat bangsa Indonesia khususnya insan persepakbolaan yang bakal dirugikan bila sanksi tersebut dijatuhkan.
Sanksi FIFA di depan mata jelas akan memupus harapan dan kesempatan bagi timnas dan perserikatan untuk berjuang meraih prestasi. Kepentingan nasional membela dan mengharumkan nama bangsa di atas segala-galanya haruslah lebih diutamakan daripada ambisi dan kepentingan individu/kelompok tertentu. Mengutip mantan pemain nasional Yohannes Auri, "bukan perkara mudah untuk melobi FIFA kalau hukuman sudah dijatuhkan, karenanya saya menyesalkan pihak yang meremehkan ancaman sanksi FIFA."
Kita pasti legowo menerima sanksi FIFA apabila itu dijatuhkan karena Indonesia mempertahankan hal yang prinsip dan membela martabat/harga diri bangsa, bukan karena ulah sekelompok orang yang punya kepentingan dan memaksakan kehendaknya dalam kongres PSSI. Patut dipertanyakan kepada semua pihak yang mengaku punya kepedulian dalam memajukan persepakbolaan di tanah air, mengapa sulit mencapai kata sepakat untuk memilih dan menetapkan pengurus PSSI sesuai dengan agenda yang sudah disiapkan?.
Misi Ketua Komite Normalisasi (KN) PSSI Agum Gumelar yang akan melaporkan secara resmi pelaksanaan kongres kepada FIFA, tgl 28 Mei 2011 mendatang, patut didukung oleh seluruh bangsa Indonesia yang cinta dan peduli pada kelangsungan pembinaan sepakbola tanah air. Harapan kita, Pak Agum Gumelar kembali ke tanah air membawa kabar yang menyejukkan sekaligus memberi harapan untuk mewujudkan suasana kondusif bagi organisasi PSSI ke depan dan tentu saja bagi persepakbolaan di tanah air pada umumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar